Tabularasa

Manusia Bukan Kertas Kosong

Manusia Awal

Manusia Awal


Pendidikan adalah aset masa kini dan masa depan.Tanpa pendidikan tidak mungkin akan dicapai segala cita-cita dalam peradaban kemanusiaan. Dalam perjalanannya pendidikan yang seharusnya “mengatasi masalah tanpa masalah” justru menjadi bagian dari masalah itu sendiri. Bahkan pendidikan bisa menjadi penyebab dari berbagai masalah. Mulai dari masalah mahalnya biaya pendidikan sampai tuntutan pendidikan gratis. Masalah yang cukup banyak mengundang perdebatan panjang diantaranya adalah masalah kurikulum. Semuanya itu hanya menjadikan peserta didik sebagai objek pendidikan belaka yang hampir-hampir melupakan tujuan pendidikan yang hakiki.
Peserta didik adalah “korban” yang tidak merasa dirinya dikorbankan. Kecerdasan dan kemampuan manusiawinya dipicu dan dipacu sedemikian rupa untuk kebutuhan materialisme, kapitalisme, hedonisme yang berkedok pada modernitas, agama, HAM, dan sebagainya yang serba formal, legal, hitam di atas putih. Semua kemampuan diri peserta didik yang sebenarnya sudah “sangat komplit” sejak ia diciptakan diakui sebagai “hasil” dari proses di lembaga pendidikan dalam bentuk apapun, yang berujung pada sertifikasi diatas selembar kertas pengakuan keahlian tertentu pada bidang tertentu sehingga hanya bisa bekerja secara sah dibidang itu.
Pandangan bahwa peserta didik diibaratkan sebagai kertas putih yang kosong yang bisa “seenaknya” dicorat-coret menjadikan peserta didik sebagai kambing hitam dan sekaligus sapi perahan. Kambing hitam jika terjadi kemunduran prestasi belajar, sapi perahan jika terjadi kemajuan.
Manusia seutuhnya bukanlah akhir tujuan pendidikan, karena manusia sudah diciptakan sangat sempurna dan serba utuh oleh penciptanya sejak manusia belum berpikir akan keutuhan dan kesempurnaannya. Diibaratkan dengan teknologi komputer, sebenarnya pada setiap manusia sudah terkompresi semua ilmu dan pengetahuan milik Tuhan yang dititipkan pada manusia makhluk ciptaannya yang paling sempurna. Ilmu dan pengetahuan itu ibaratnya data-data pada komputer yang sudah terkompresi (di”Winzip”misalnya). Ada zip yang sudah auto extractor ada yang belum, dalam arti lain perlu eksekusi dari luar. Maaf perumpamaannya diambilkan dari bidang komputer karena itu yang paling mendekati persamaan maknanya. Jadi manusia bukanlah kertas putih yang kosong melompong, tetapi gudang ilmu pengetahuan yang terkompresi atau tersimpan dalam kemasan yang perlu dipicu supaya ilmu pengetahuan yang terkompresi itu bisa bermakna bagi kehidupannya.
Sentuhan-sentuhan yang diberikan dunia luar pada seorang manusia akan merangsang data-data ilmu pengetahuan yang terkompresi itu sesuai dengan jenis rangsangannya. Misalnya ketika seorang ibu hamil sering menangis karena kejadian kekerasan yang menimpa dirinya, maka si ibu memberikan sentuhan rasa takut pada diri bayi. Sentuhan itu akan direspon oleh si bayi dengan menguraikan ilmu pengetahuannya dibidang rasa takut. Respon itu bisa berupa tangisan, jeritan, dan semua potensi rasa takut yang diujudkan dalam tindakan fisiknya kelak ketika ia sudah mampu untuk bertindak secara fisik. Tanpa referensi dari Tuhan tentang arti kata “takut” maka bayi tidak akan pernah merasa takut. Ketika memasuki dunia lahiriah saat dia dilahirkan sentuhan pertama yang dirasakannya adalah sesuatu yang membuat ia tidak nyaman (baca:kekerasan), misalnya hawa dingin alam dunia. Hal itu memicu data-data respon tentang kekerasan untuk diuraikan menjadi tindakan fisik berupa tangisan.
Sentuhan yang diberikan dunia luar pada seorang manusia, yang memicu data-data pengetahuannya menjadi terurai bahkan akan memberikan respon yang melebihi kadar rangsangan yang diterimanya. Sebagai contoh, ketika seorang anak yang cengeng dipukul temannya, respon pertamanya ia hanya menangis. Suatu saat ia diajari ibunya untuk membalas pukulan sekadar kalau ia dipukul. Pada suatu ketika anak ini akan menjadi anak yang memberikan rangsangan pukulan pada anak lain sebagai akibat dari respon si anak terhadap perintah ibunya untuk membalas pukulan. Si anak akan merespon lebih dari respon pertamanya karena si anak sudah lengkap terurai data-data pengetahuannya tentang pukul-memukul. Jadilah ia lebih nakal dari pada anak pertama yang memukulnya.
Jika otak peserta didik hanyalah objek untuk merekam data-data luar sangat pasti otak peserta didik akan cepat habis kapasitas peyimpanannya. Ibarat Hard Disk kapasitanya terbatas, ia akan cepat penuh. Contohnya otak binatang, sejak jaman dulu tidak ada monyet yang bisa bicara meskipun sudah berinteraksi dengan manusia ratusan tahun. Walaupun ahli-ahli psikologi yakin ada resapan ke alam bawah sadar, itupun sangat terbatas kapasitasnya. Logikanya sesuatu yang diisi pada suatu saat akan segera penuh. Kebalikannya jika ia sudah penuh sejak penciptaanya, maka yang membedakan kemampuan antar manusia hanyalah sentuhan atau rangsangan dari luar dirinya, baik jenis, frekuensi, maupun bidangnya.
Dengan pandangan di atas seharusnya menjadikan kita yang berkepentingan dengan pendidikan, untuk sangat berhati-hati dalam mendidik. Penghargaan yang lebih tinggi akan diberikan pada kesempurnaan penciptaan manusia yang sudah komplit dan utuh dari awalnya. Niat, metode, contoh teladan, dan sebagainya dalam pendidikan seyogyanya tidak menjadikan peserta didik sebagai objek belaka. Lalu kapan peserta didik merdeka?

Tegal, 1 Mei 2006

R o c h m a t

Tag: , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: